# Berkat: Arti Makanan Bawaan Pulang dari Selamatan

Berkat adalah makanan yang dibawa pulang oleh tamu setelah kenduri atau selamatan. Tuan rumah membagikannya kepada jamaah sebagai tanda terima kasih sekaligus cara berbagi rezeki, biasanya dalam bungkusan atau wadah kecil.

- Isi umum: Nasi, lauk, dan kudapan
- Wadah: Misalnya besek atau kotak


## Berkat atau Sego Berkat: Arti Makanan Bawaan Pulang dari Selamatan

Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), istilah nasi berkat tentu sudah sangat familiar. Dalam berbagai acara tradisi keagamaan, nasi berkat hampir selalu hadir sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan. Makanan ini bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga memiliki makna tersendiri dalam tradisi masyarakat.

Nasi berkat juga kerap disebut nasi besek. Sebutan tersebut muncul karena nasi dan lauk-pauknya biasanya ditempatkan dalam wadah besek. Jika dahulu besek dibuat dari anyaman bambu, kini wadahnya lebih sering menggunakan bahan plastik atau kertas. Dalam tradisi masyarakat Muslim Nusantara, sejarah nasi berkat sering dikaitkan dengan masa Wali Songo sebagai penyebar agama Islam di Nusantara.

Kata “berkat” sendiri berasal dari bahasa Arab yang dikaitkan dengan makna ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Karena itu, nasi berkat dipahami sebagai makanan yang membawa keberkahan atau barokah, terutama ketika dibawa pulang kemudian dinikmati bersama keluarga.

Dari sisi isi, nasi berkat memang dapat dikatakan sebagai hidangan yang cukup lengkap. Umumnya terdapat nasi, sayur, urap, gorengan, daging ayam, telur, kering tempe, rokok, air minum, hingga berbagai jajanan atau makanan ringan. Telur biasanya disajikan dalam keadaan masih bulat dan direbus bersama kulitnya, atau telur rebus tersebut dimasukkan ke dalam sambal. Sementara itu, daging ayam dapat diolah menjadi berbagai masakan, seperti rendang, semur, maupun ayam goreng.

Makna keberkahan nasi berkat juga dikaitkan dengan rangkaian doa dalam acara selamatan. Di dalam kegiatan tersebut biasanya dibacakan doa, shalawat, serta ayat-ayat Al-Qur'an. Karena itu, nasi berkat dipandang memiliki nilai kebaikan yang tidak hanya berasal dari makanan itu sendiri, tetapi juga dari doa dan niat baik yang menyertainya.

Meski demikian, terkadang masih ada sesama Muslim yang melarang, bahkan menganggap haram, memakan nasi berkat. Pandangan tersebut biasanya berkaitan dengan perbedaan dalam memahami dalil, filosofi, fungsi, manfaat, serta nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Dalam praktiknya, nasi berkat dapat ditemukan dalam berbagai acara keagamaan dan tradisi warga NU. Misalnya walimatul aqiqah untuk kelahiran, tahlilan untuk orang meninggal, walimatul khitan, walimatul urs atau pernikahan, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., Isra Miraj, haul, ulang tahun, dan berbagai acara lainnya. Berkat juga selalu hadir dalam [kenduri](/glosarium/kenduri/), jamuan makan bersama yang menjadi inti dari [selamatan](/glosarium/selamatan/).

Salah satu ciri khas nasi berkat adalah tidak disantap langsung di tempat acara. Setelah menerima berkat, tamu biasanya membawanya pulang untuk kemudian dinikmati bersama anggota keluarga di rumah. Kebiasaan membawa pulang makanan inilah yang membuat nasi berkat begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.

KH Said Aqil Siradj pernah menyampaikan bahwa dirinya bersama saudara kandungnya dapat menjadi seperti sekarang karena sejak kecil sering diberi makan nasi berkat oleh orang tuanya. Entah pernyataan tersebut disampaikan sebagai guyonan atau benar-benar sebuah pengalaman, yang jelas nasi berkat memang memiliki keberkahan tersendiri bagi masyarakat yang menjalaninya. Di dalamnya terdapat unsur sedekah sekaligus doa-doa yang dipanjatkan dalam sebuah acara selamatan.

Ada pula kisah menarik yang pernah terjadi pada tahun 1994 M. Seorang perempuan di Desa Lengkukai, Kabupaten Tanggamus, Lampung, dikisahkan mengalami ngidam berupa keinginan mencium aroma nasi berkat ketika sedang hamil.

Kisah tersebut menarik karena menunjukkan betapa dekatnya tradisi nasi berkat dengan kehidupan sebagian masyarakat NU. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun bahkan dianggap begitu melekat dalam kehidupan keluarga hingga muncul dalam pengalaman seorang ibu yang sedang mengandung.

Pada dasarnya, nasi berkat merupakan bentuk sedekah dari tuan rumah kepada para tamu yang datang menghadiri acara. Sudah sewajarnya seseorang yang menerima tamu memberikan makanan dan minuman yang baik sebagai bentuk penghormatan.

Menghormati tamu sendiri merupakan salah satu ajaran yang diperintahkan Rasulullah saw., baik kepada tamu yang memang diundang maupun mereka yang datang tanpa direncanakan. Terlebih lagi, dalam acara selamatan, para tamu turut membantu dengan mengikuti rangkaian acara serta membacakan doa untuk tuan rumah dan keluarganya. Karena itulah, nasi berkat tidak sekadar dipandang sebagai makanan yang dibawa pulang, tetapi juga sebagai wujud sedekah, penghormatan kepada tamu, dan doa yang menyertai sebuah tradisi. Nasi berkat termasuk [ubarampe](/glosarium/ubarampe/), yakni perlengkapan yang menyertai upacara selamatan.

## Sumber Referensi

- [Nasi Berkat, Nasi Khas Acara Warga NU](https://lampung.nu.or.id/pernik/nasi-berkat-nasi-khas-acara-warga-nu-1d4TC)

URL: https://kalkulatormenghitungselamatanorangmeninggal.com/glosarium/berkat/
Diperbarui: 2025-12-12
