Talqin: Arti, Waktu, dan Perbedaan Pandangan
Talqin adalah bimbingan mengucapkan kalimat tauhid. Talqin dilakukan kepada orang yang sedang menghadapi ajal, dan di sebagian komunitas juga dibacakan di dekat makam setelah penguburan, dengan pandangan yang berbeda antar mazhab dan ormas.
- Waktu
- Menjelang wafat atau setelah penguburan
- Pandangan
- Berbeda antar mazhab dan ormas
Arti talqin
Secara khusus, talqin dapat dipahami sebagai upaya membimbing seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar mengucapkan kalimat syahadat. Dasarnya adalah hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, yang berbunyi, “Talqinlah orang yang wafat di antara kalian dengan kalimat La ilaha illallah” (HR. Muslim). Namun, muncul pertanyaan mengenai maksud kata “wafat” dalam hadis tersebut, apakah merujuk kepada orang yang sudah meninggal atau seseorang yang sedang berada dalam kondisi menjelang ajal.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Arifudin, menjelaskan bahwa hadis tersebut tidak dimaksudkan untuk membimbing orang yang telah meninggal, melainkan orang yang sedang berada dalam keadaan sekarat. Penjelasan tersebut sejalan dengan hadis Nabi saw. yang menerangkan bahwa seseorang yang ucapan terakhirnya menjelang ajal adalah kalimat La ilaha illallah akan mendapatkan balasan surga (HR. Abu Dawud). Talqin setelah penguburan yang dilakukan di dekat makam terkait dengan praktik ziarah kubur dan dilanjutkan dengan pembacaan doa arwah.
Menurut Arifudin, membimbing orang yang sedang menghadapi ajal untuk mengucapkan kalimat tahlil merupakan salah satu bentuk ikhtiar agar seseorang memperoleh husnul khatimah. Talqin dilakukan sebelum orang tersebut benar-benar meninggal, dengan harapan ia dapat mengucapkan kalimat tauhid sebelum menghadap Allah SWT.
“Ketika seseorang berada di penghujung hidupnya, sunnahnya adalah kita membimbingnya agar mengucapkan kalimat tahlil. Tujuannya supaya kalimat tersebut menjadi ucapan yang keluar sebelum ia menghadap Allah,” jelas Arifudin dalam sebuah kajian yang digelar di Masjid KH. Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (16/03).
Arifudin, yang juga berprofesi sebagai dokter, menambahkan bahwa mengucapkan La ilaha illallah ketika seseorang berada dalam kondisi sakaratul maut bukan perkara yang selalu mudah. Kemampuan seseorang untuk mengucapkannya dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk kondisi fisik serta kebiasaan amal ibadah selama hidup dalam keadaan sehat.
Karena itu, kehadiran keluarga menjadi hal yang penting ketika salah satu anggota keluarga berada dalam kondisi kritis. Pendampingan dari orang-orang terdekat diharapkan dapat memberikan ketenangan sekaligus membantu orang yang sedang sekarat untuk mengucapkan perkataan yang baik, termasuk kalimat syahadat.
“Mengucapkan La ilaha illallah ketika menghadapi sakaratul maut tidak semudah yang dibayangkan. Karena itu, keluarga sebaiknya tetap berada di samping anggota keluarganya yang sedang menghadapi ajal dan memberikan pendampingan,” ungkap Arifudin.