Jenis-jenis Selamatan Kematian Jawa: Panduan Lengkap
Daftar Isi
- Pengantar Selamatan Kematian Jawa
- Geblag (Hari Pertama)
- Nelung Dina (Hari Ketiga)
- Mitung Dina (Hari Ketujuh)
- Matangpuluh (Hari ke-40)
- Nyatus (Hari ke-100)
- Pendhak Sepisan (1 Tahun Jawa)
- Pendhak Pindho (2 Tahun Jawa)
- Nyewu (1000 Hari)
- Perbandingan Antar Jenis Selamatan
- Perbedaan Tradisi Antar Daerah di Jawa
Pengantar Selamatan Kematian Jawa
Dalam tradisi Jawa, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan spiritual menuju alam baka. Untuk mengiringi perjalanan roh orang yang telah meninggal, masyarakat Jawa melakukan serangkaian selamatan yang telah diatur berdasarkan tradisi selamatan yang turun-temurun.
Selamatan kematian dalam tradisi Jawa terdiri dari 8 tahapan utama, dimulai dari hari pertama kematian (Geblag) hingga hari ke-1000 (Nyewu). Setiap tahapan memiliki makna filosofis, tata cara pelaksanaan, dan doa-doa khusus yang berbeda. Rangkaian selamatan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Jawa tentang perjalanan roh setelah kematian dan pentingnya doa dari keluarga yang ditinggalkan.
Untuk menentukan tanggal-tanggal selamatan dengan akurat, diperlukan pemahaman tentang cara menghitung selamatan menggunakan sistem penanggalan Jawa. Perhitungan ini tidak sesederhana menambahkan jumlah hari, melainkan menggunakan rumus-rumus khusus yang mempertimbangkan weton dan pasaran.
Geblag (Hari Pertama)
Geblag adalah selamatan pertama yang dilakukan pada hari kematian, biasanya setelah jenazah dimakamkan. Nama "geblag" berasal dari kata yang menggambarkan suara atau hentakan, melambangkan kejutan dan kesedihan mendalam atas kepergian seseorang.
Waktu Pelaksanaan
Geblag dilaksanakan pada hari yang sama dengan kematian, umumnya pada malam hari setelah jenazah dimakamkan. Jika kematian terjadi pada sore atau malam hari dan pemakaman dilakukan keesokan harinya, maka geblag dilakukan setelah pemakaman tersebut.
Tata Cara Pelaksanaan
Pada geblag, keluarga yang berduka menerima kedatangan kerabat, tetangga, dan teman-teman untuk melayat dan berdoa bersama. Acara biasanya dimulai dengan pembacaan tahlil dan doa-doa untuk arwah yang meninggal. Setelah itu, disajikan makanan sederhana untuk para pelayat.
Makanan yang disajikan dalam geblag umumnya lebih sederhana dibandingkan selamatan-selamatan berikutnya, mengingat keluarga masih dalam kondisi berduka yang sangat mendalam. Biasanya berupa nasi dengan lauk sederhana, seperti ayam, tahu, tempe, dan sayur.
Makna Filosofis
Geblag melambangkan penerimaan awal atas kepergian orang yang dicintai. Melalui geblag, keluarga mulai mengikhlaskan kepergian dan memohon ampunan untuk segala dosa almarhum/almarhumah. Kehadiran kerabat dan tetangga memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan oleh keluarga yang berduka.
Nelung Dina (Hari Ketiga)
Nelung Dina atau "tiga hari" adalah selamatan yang dilakukan pada hari ketiga setelah kematian. Dalam kepercayaan Jawa, hari ketiga adalah waktu di mana roh mulai menyadari bahwa ia telah meninggalkan dunia fana.
Waktu Pelaksanaan
Nelung dina dilaksanakan pada hari ketiga setelah kematian, bukan pada hari ketiga setelah pemakaman. Perhitungannya menggunakan sistem penanggalan Jawa yang mempertimbangkan weton. Untuk perhitungan yang akurat, keluarga perlu memahami rumus nelung dina atau menggunakan kalkulator selamatan.
Tata Cara Pelaksanaan
Acara nelung dina biasanya lebih terorganisir dibandingkan geblag. Keluarga sudah mulai bisa menerima tamu dengan lebih tenang. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh.
Makanan yang disajikan dalam nelung dina umumnya sudah lebih lengkap, termasuk nasi, lauk-pauk, sayur, dan krupuk. Beberapa keluarga juga menyiapkan jenang (bubur) sebagai simbol kesucian dan keikhlasan.
Makna Filosofis
Nelung dina melambangkan fase di mana roh mulai menyadari kondisinya. Doa-doa yang dipanjatkan pada nelung dina ditujukan untuk membantu roh melewati fase ini dengan tenang dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Angka tiga dalam tradisi Jawa memiliki makna kesempurnaan awal.
Mitung Dina (Hari Ketujuh)
Mitung Dina atau "tujuh hari" (juga dikenal sebagai "pitungdina") adalah selamatan yang dilakukan pada hari ketujuh setelah kematian. Ini adalah salah satu selamatan yang paling penting dalam rangkaian selamatan kematian Jawa.
Waktu Pelaksanaan
Mitung dina dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kematian berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa. Seperti nelung dina, perhitungannya mempertimbangkan weton dan pasaran, sehingga tidak selalu jatuh pada hari ketujuh dalam kalender Masehi.
Tata Cara Pelaksanaan
Mitung dina biasanya dihadiri oleh lebih banyak orang dibandingkan nelung dina. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil yang lebih panjang, dilanjutkan dengan ceramah agama singkat tentang kematian dan kehidupan setelah mati.
Makanan yang disajikan dalam mitung dina lebih lengkap dan bervariasi. Beberapa keluarga menyiapkan nasi tumpeng kecil sebagai simbol rasa syukur dan permohonan berkah. Hidangan lain yang umum disajikan termasuk ayam ingkung, jangan, urap, dan berbagai macam kue tradisional.
Makna Filosofis
Angka tujuh dalam tradisi Jawa dan Islam memiliki makna kesempurnaan. Mitung dina melambangkan fase di mana roh telah melewati masa-masa awal setelah kematian dan mulai memasuki perjalanan spiritualnya. Doa-doa pada mitung dina sangat penting untuk membantu roh mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah SWT.
Matangpuluh (Hari ke-40)
Matangpuluh atau "empat puluh hari" (juga dikenal sebagai "masarma" atau "patangpuluh") adalah selamatan yang dilakukan pada hari ke-40 setelah kematian. Ini adalah selamatan yang sangat penting dalam tradisi Jawa dan juga memiliki dasar dalam tradisi Islam.
Waktu Pelaksanaan
Matangpuluh dilaksanakan pada hari ke-40 setelah kematian berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa. Perhitungannya menggunakan rumus khusus yang mempertimbangkan weton dan pasaran, sehingga tanggalnya bisa berbeda dengan perhitungan 40 hari dalam kalender Masehi.
Tata Cara Pelaksanaan
Matangpuluh biasanya merupakan selamatan yang cukup besar, dihadiri oleh banyak kerabat, tetangga, dan teman. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil yang panjang, dilanjutkan dengan ceramah agama yang lebih mendalam tentang kematian, kehidupan setelah mati, dan pentingnya berbuat baik selama hidup.
Makanan yang disajikan dalam matangpuluh biasanya sangat lengkap dan melimpah. Hampir semua keluarga menyiapkan nasi tumpeng besar, ayam ingkung, berbagai macam sayur dan lauk, serta kue-kue tradisional. Beberapa keluarga juga menyiapkan jenang merah putih sebagai simbol kesucian dan keseimbangan.
Makna Filosofis
Dalam kepercayaan Islam, hari ke-40 adalah waktu di mana catatan amal seseorang ditutup. Dalam tradisi Jawa, matangpuluh melambangkan fase di mana roh telah sepenuhnya meninggalkan dunia fana dan memasuki alam barzakh. Doa-doa pada matangpuluh sangat penting untuk membantu roh mendapatkan ampunan dan tempat yang baik di sisi Allah SWT.
Angka 40 juga memiliki makna khusus dalam berbagai tradisi keagamaan. Dalam Islam, banyak peristiwa penting yang terkait dengan angka 40, seperti 40 hari masa iddah, 40 hari masa nifas, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa matangpuluh bukan hanya tradisi Jawa, tetapi juga memiliki landasan keagamaan yang kuat.
Nyatus (Hari ke-100)
Nyatus atau "seratus hari" (juga dikenal sebagai "rosarma" atau "nyatusna") adalah selamatan yang dilakukan pada hari ke-100 setelah kematian. Selamatan ini menandai bahwa sudah 100 hari sejak kepergian orang yang dicintai.
Waktu Pelaksanaan
Nyatus dilaksanakan pada hari ke-100 setelah kematian berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa. Seperti selamatan-selamatan sebelumnya, perhitungannya menggunakan rumus khusus yang mempertimbangkan weton dan pasaran.
Tata Cara Pelaksanaan
Nyatus biasanya merupakan selamatan yang cukup besar, meskipun mungkin tidak sebesar matangpuluh. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil, dilanjutkan dengan doa bersama dan ceramah agama singkat.
Makanan yang disajikan dalam nyatus biasanya lengkap, termasuk nasi tumpeng, ayam ingkung, berbagai macam lauk dan sayur, serta kue-kue tradisional. Beberapa keluarga juga menyiapkan jenang sebagai simbol kesucian.
Makna Filosofis
Nyatus melambangkan fase di mana keluarga yang ditinggalkan sudah mulai bisa menerima kepergian dengan lebih ikhlas. Doa-doa pada nyatus ditujukan untuk terus mengirimkan pahala kepada arwah yang meninggal dan memohon agar roh mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah SWT.
Angka 100 melambangkan kesempurnaan dan kelengkapan. Dalam tradisi Jawa, nyatus menandai bahwa roh telah melewati fase-fase awal setelah kematian dan sudah berada dalam kondisi yang lebih stabil di alam barzakh.
Pendhak Sepisan (1 Tahun Jawa)
Pendhak Sepisan atau "haul pertama" adalah selamatan yang dilakukan pada 1 tahun Jawa (354 hari) setelah kematian. Ini adalah selamatan yang menandai genap satu tahun kepergian dalam sistem penanggalan Jawa.
Waktu Pelaksanaan
Pendhak sepisan dilaksanakan pada hari yang sama dengan hari kematian dalam kalender Jawa, yaitu 354 hari setelah kematian. Ini berbeda dengan 1 tahun dalam kalender Masehi yang berjumlah 365 hari. Perhitungannya mempertimbangkan weton dan pasaran, sehingga jatuh pada hari dan pasaran yang sama dengan hari kematian.
Tata Cara Pelaksanaan
Pendhak sepisan biasanya merupakan selamatan yang cukup besar, dihadiri oleh banyak kerabat, tetangga, dan teman. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil yang panjang, dilanjutkan dengan ceramah agama tentang pentingnya mendoakan orang yang telah meninggal.
Makanan yang disajikan dalam pendhak sepisan biasanya sangat lengkap, termasuk nasi tumpeng besar, ayam ingkung, berbagai macam lauk dan sayur, serta kue-kue tradisional. Beberapa keluarga juga menyiapkan hidangan khusus yang disukai oleh almarhum/almarhumah sebagai bentuk kenangan.
Makna Filosofis
Pendhak sepisan melambangkan satu putaran lengkap dalam kalender Jawa. Ini adalah waktu untuk mengenang kembali kepergian orang yang dicintai dan mengirimkan doa serta pahala. Dalam tradisi Jawa, pendhak sepisan juga menjadi momen untuk merefleksikan kehidupan almarhum/almarhumah dan mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya.
Pendhak Pindho (2 Tahun Jawa)
Pendhak Pindho atau "haul kedua" adalah selamatan yang dilakukan pada 2 tahun Jawa (708 hari) setelah kematian. Ini adalah selamatan yang menandai genap dua tahun kepergian dalam sistem penanggalan Jawa.
Waktu Pelaksanaan
Pendhak pindho dilaksanakan pada hari yang sama dengan hari kematian dalam kalender Jawa, yaitu 708 hari (2 x 354 hari) setelah kematian. Seperti pendhak sepisan, perhitungannya mempertimbangkan weton dan pasaran.
Tata Cara Pelaksanaan
Pendhak pindho biasanya lebih sederhana dibandingkan pendhak sepisan, meskipun tetap dihadiri oleh kerabat dan tetangga dekat. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil dan doa bersama.
Makanan yang disajikan dalam pendhak pindho biasanya cukup lengkap, meskipun mungkin tidak se-meriah pendhak sepisan. Beberapa keluarga memilih untuk membuat selamatan yang lebih sederhana, fokus pada doa dan kebersamaan.
Makna Filosofis
Pendhak pindho melambangkan dua putaran lengkap dalam kalender Jawa. Ini adalah waktu untuk kembali mengenang dan mengirimkan doa kepada arwah yang meninggal. Meskipun sudah dua tahun berlalu, tradisi Jawa mengajarkan bahwa doa untuk orang yang telah meninggal tidak pernah berhenti.
Nyewu (1000 Hari)
Nyewu atau "seribu hari" (juga dikenal sebagai "nemsarm") adalah selamatan terakhir dan terbesar dalam rangkaian selamatan kematian Jawa. Ini adalah puncak dari semua selamatan yang telah dilakukan sebelumnya.
Waktu Pelaksanaan
Nyewu dilaksanakan pada hari ke-1000 setelah kematian berdasarkan perhitungan penanggalan Jawa. Perhitungannya sangat kompleks dan menggunakan rumus khusus yang mempertimbangkan weton dan pasaran. Banyak keluarga yang menggunakan kalkulator online untuk menghitung Nyewu agar tidak salah dalam menentukan tanggalnya.
Tata Cara Pelaksanaan
Nyewu adalah selamatan yang paling besar dan meriah. Keluarga biasanya mempersiapkan acara ini dengan sangat matang, mulai dari beberapa minggu sebelumnya. Undangan disebarkan kepada seluruh kerabat, tetangga, teman, dan kenalan almarhum/almarhumah.
Acara nyewu biasanya dimulai pada sore hari dan berlangsung hingga malam. Dimulai dengan pembacaan tahlil yang sangat panjang, dilanjutkan dengan ceramah agama yang mendalam tentang kematian dan kehidupan setelah mati. Beberapa keluarga juga mengundang beberapa ustadz atau kiai untuk memimpin doa.
Makanan yang disajikan dalam nyewu sangat lengkap dan melimpah. Hampir semua keluarga menyiapkan nasi tumpeng besar, beberapa ayam ingkung, berbagai macam lauk dan sayur, jenang merah putih, serta berbagai macam kue tradisional. Beberapa keluarga juga menyiapkan hidangan khusus yang menjadi favorit almarhum/almarhumah.
Makna Filosofis
Nyewu melambangkan penutupan rangkaian selamatan kematian. Angka 1000 dalam tradisi Jawa melambangkan kesempurnaan tertinggi dan kelengkapan total. Setelah nyewu, dianggap bahwa roh almarhum/almarhumah telah sepenuhnya tenang di alam barzakh dan siap menghadap Allah SWT.
Nyewu juga menjadi momen bagi keluarga untuk benar-benar mengikhlaskan kepergian orang yang dicintai. Setelah nyewu, keluarga diharapkan sudah bisa melanjutkan kehidupan dengan lebih tenang, meskipun tetap mengenang dan mendoakan almarhum/almarhumah.
Dalam kepercayaan Jawa, setelah nyewu, roh almarhum/almarhumah sudah tidak lagi terikat dengan dunia fana. Oleh karena itu, nyewu menjadi selamatan terakhir yang wajib dilakukan. Setelah nyewu, keluarga tetap bisa mendoakan almarhum/almarhumah kapan saja, tetapi tidak ada lagi selamatan wajib yang harus dilakukan.
Perbandingan Antar Jenis Selamatan
Untuk memudahkan pemahaman tentang perbedaan antar jenis selamatan, berikut adalah perbandingan dalam bentuk tabel:
| Jenis Selamatan | Waktu | Nama Lain | Skala Acara | Makna Utama |
|---|---|---|---|---|
| Geblag | Hari 1 | - | Sederhana | Penerimaan awal kepergian |
| Nelung Dina | Hari 3 | Tiga hari | Sedang | Roh mulai menyadari kondisinya |
| Mitung Dina | Hari 7 | Pitungdina | Sedang-Besar | Kesempurnaan fase awal |
| Matangpuluh | Hari 40 | Masarma, Patangpuluh | Besar | Penutupan catatan amal |
| Nyatus | Hari 100 | Rosarma, Nyatusna | Sedang-Besar | Kesempurnaan dan kelengkapan |
| Pendhak Sepisan | 354 hari | Haul pertama | Besar | Satu putaran kalender Jawa |
| Pendhak Pindho | 708 hari | Haul kedua | Sedang | Dua putaran kalender Jawa |
| Nyewu | 1000 hari | Nemsarm | Sangat Besar | Penutupan rangkaian selamatan |
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa setiap jenis selamatan memiliki karakteristik dan makna yang berbeda. Selamatan-selamatan besar seperti Matangpuluh, Pendhak Sepisan, dan terutama Nyewu memerlukan persiapan yang matang agar acara berjalan dengan lancar dan khidmat.
Perbedaan Tradisi Antar Daerah di Jawa
Meskipun secara umum tradisi selamatan kematian di Jawa memiliki kesamaan, terdapat beberapa perbedaan dalam pelaksanaannya di berbagai daerah. Perbedaan ini mencerminkan kekayaan dan keragaman budaya Jawa.
Jawa Tengah
Di Jawa Tengah, terutama di daerah Surakarta dan Yogyakarta, tradisi selamatan kematian dilakukan dengan sangat lengkap dan detail. Semua 8 tahapan selamatan biasanya dilakukan, dari geblag hingga nyewu. Tata cara pelaksanaannya juga sangat mengikuti aturan tradisional, termasuk dalam hal jenis makanan yang disajikan dan doa-doa yang dibacakan.
Di Jawa Tengah, jenang merah putih menjadi hidangan wajib dalam selamatan-selamatan besar seperti matangpuluh dan nyewu. Jenang ini melambangkan kesucian (putih) dan keberanian (merah), serta keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Jawa Timur
Di Jawa Timur, tradisi selamatan kematian juga dilakukan dengan lengkap, meskipun ada beberapa perbedaan dalam istilah dan tata cara. Misalnya, matangpuluh sering disebut dengan "patang puluh dina" dan nyatus disebut dengan "satus dina".
Di beberapa daerah di Jawa Timur, terutama yang dekat dengan pesisir, pengaruh Islam lebih kuat sehingga selamatan lebih fokus pada pembacaan Al-Quran dan doa-doa berbahasa Arab. Namun, esensi dan makna filosofis selamatan tetap sama.
Jawa Barat
Di Jawa Barat, terutama di daerah Sunda, tradisi selamatan kematian mengalami akulturasi dengan budaya Sunda. Meskipun tetap mengikuti tahapan-tahapan utama seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, istilah dan tata caranya sedikit berbeda.
Di Jawa Barat, selamatan sering disebut dengan "tahlilan" atau "kenduri". Makanan yang disajikan juga memiliki ciri khas Sunda, seperti nasi timbel, ayam goreng, dan berbagai macam lalapan.
Adaptasi Modern
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang, tradisi selamatan kematian mengalami adaptasi dengan gaya hidup modern. Beberapa keluarga memilih untuk melakukan selamatan yang lebih sederhana, fokus pada selamatan-selamatan utama seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari, dan 1000 hari, sementara selamatan lainnya mungkin tidak dilakukan atau digabungkan.
Meskipun demikian, esensi dan makna filosofis selamatan tetap dijaga. Yang terpenting adalah niat untuk mendoakan arwah yang meninggal dan menjaga silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.
"Setiap tahap selamatan, dari Geblag hingga Nyewu, bukan hanya ritual perpisahan, tetapi proses pendampingan spiritual bagi roh menuju keabadian."
Kesimpulan
Tradisi selamatan kematian dalam budaya Jawa adalah warisan leluhur yang sangat berharga. Rangkaian selamatan dari geblag hingga nyewu mencerminkan kepercayaan mendalam tentang perjalanan roh setelah kematian dan pentingnya doa dari keluarga yang ditinggalkan.
Setiap jenis selamatan memiliki makna filosofis dan tata cara pelaksanaan yang berbeda, namun semuanya bertujuan untuk mengiringi perjalanan roh menuju alam baka dan memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka. Memahami setiap jenis selamatan membantu kita untuk melaksanakannya dengan lebih khidmat dan bermakna.
Di era modern ini, meskipun cara pelaksanaan selamatan mungkin mengalami adaptasi, esensi dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap relevan dan perlu dilestarikan. Tradisi selamatan mengajarkan kita tentang pentingnya mengingat kematian, mendoakan orang yang telah meninggal, dan menjaga silaturahmi dengan sesama.
Referensi & Sumber
- Hendrajaya, J., & Almu'tasim, A. (2020). Tradisi Selamatan Kematian Nyatus Nyewu: Implikasi Nilai Pluralisme Islam Jawa. Jurnal Lektur Keagamaan, 17(2).
- Suwardi. (1998). Sinkretisme dan Simbolisme Tradisi Selametan Kematian di Desa Purwosari, Kulonprogo. Jurnal Diksi, 15(5).
- Geertz, C. (1960). The Religion of Java. University of Chicago Press.
- Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
Hitung Jadwal Selamatan Lengkap
Gunakan kalkulator selamatan online kami untuk menghitung jadwal lengkap semua jenis selamatan dari Geblag hingga Nyewu dengan akurat berdasarkan sistem penanggalan Jawa.
Hitung Jadwal Selamatan