Windu: Siklus 8 Tahun dalam Kalender Jawa
Windu adalah satuan waktu delapan tahun dalam kalender Jawa. Dalam satu windu ada tiga tahun kabisat (wuntu) berumur 355 hari, yaitu Ehe, Dal, dan Jimakir, sehingga satu windu berumur 2835 hari atau tepat 81 selapan.
- Panjang
- 8 tahun = 2835 hari
- Tahun kabisat
- Ehe, Dal, Jimakir (355 hari)
Arti windu
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa orang Jawa punya cara sendiri dalam menghitung waktu? Jawabannya ada pada windu, satuan waktu khas kalender Jawa yang berlangsung selama delapan tahun. Setiap tahun di dalamnya punya nama tersendiri, berurutan seperti irama yang terus berulang: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.
Nama-nama itu bukan sekadar penanda. Masing-masing menjadi identitas bagi tahun yang sedang berjalan, sehingga masyarakat Jawa dahulu bisa menyebut suatu peristiwa dengan merujuk pada tahun tertentu dalam putaran windu. Menariknya, panjang tahunnya tidak seragam. Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir berumur 355 hari. Sementara lima tahun lainnya, yakni Alip, Jimawal, Je, Be, dan Wawu, hanya berumur 354 hari. Selisih satu hari itu terlihat sepele, tetapi dampaknya terasa dalam keseluruhan siklus.
Perhitungan
Mari kita buktikan dengan hitungan sederhana. Lima tahun berumur 354 hari dan tiga tahun berumur 355 hari, sehingga totalnya adalah 5 x 354 + 3 x 355 = 2835 hari.
Nah, di sinilah bagian yang paling memikat. Angka 2835 ternyata habis dibagi 35. Kenapa angka 35 penting? Karena itulah jumlah hari dalam satu putaran selapan, perpaduan antara siklus tujuh hari (Senin sampai Minggu) dan lima hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Hasil baginya persis 81, artinya satu windu sama dengan 81 selapan, tanpa sisa sedikit pun.
Konsekuensinya cukup indah. Ketika satu windu berakhir dan windu berikutnya dimulai, weton kembali selaras seperti semula. Hari dan pasaran jatuh pada kombinasi yang sama dengan awal windu sebelumnya, seolah waktu menutup lingkarannya dengan rapi. Para penyusun kalender Jawa tampaknya memang merancang sistem ini agar harmonis, di mana hitungan hari, pasaran, dan tahun saling mengunci dalam satu pola yang konsisten.
Kaitan dengan selamatan
Lalu, apa hubungannya dengan tradisi yang masih hidup hingga sekarang? Ternyata cukup erat. Panjang tahun yang hanya 354 atau 355 hari inilah yang menentukan umur mendhak pisan, yaitu selamatan peringatan satu tahun meninggalnya seseorang. Karena mengikuti kalender Jawa, peringatan ini jatuh pada hari ke-354 atau ke-355, bukan hari ke-365 seperti hitungan tahun Masehi.
Inilah alasan mengapa keluarga yang menggelar mendhak pisan sering kali merasa “lebih cepat” dibandingkan tanggal peringatan di kalender umum. Bukan salah hitung, melainkan memang demikian cara waktu dibaca dalam tradisi Jawa. Dengan memahami windu, kita jadi tahu bahwa di balik sebuah selamatan sederhana tersimpan perhitungan yang cermat, dan warisan leluhur yang masih relevan untuk dijaga.