Tahun Jawa (Kalender Jawa Islam): 354 Hari, Bulan, dan Perbedaannya dengan Masehi

Tahun Jawa, atau kalender Jawa Islam, adalah penanggalan berbasis bulan yang berumur 354 hari pada tahun biasa dan 355 hari pada tahun kabisat. Kalender ini diterapkan Sultan Agung pada tahun 1633 Masehi dan dipakai untuk menghitung mendhak.

Umur
354 atau 355 hari
Mulai dipakai
1633 M (tahun 1555 Jawa)
Jumlah bulan
12

Arti tahun Jawa

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa perayaan 1 Sura selalu terasa berbeda dari malam tahun baru biasa? Jawabannya ada pada kalender yang dipakai. Kalender Jawa Islam lahir pada masa Sultan Agung dari Mataram, tepatnya tahun 1633 Masehi atau bertepatan dengan 1555 Jawa. Sang raja punya gagasan cerdas: menyatukan tradisi Jawa dengan penanggalan Islam agar rakyatnya memiliki satu pegangan waktu yang selaras.

Hasilnya adalah perpaduan yang unik. Bulan-bulannya mengikuti peredaran bulan, persis seperti kalender Hijriah. Namun, leluhur Jawa tidak mau meninggalkan kekayaan lama begitu saja. Siklus hari dan pasaran tetap dipertahankan, sehingga Senin Legi atau Jumat Kliwon masih punya makna khusus hingga kini.

Nama bulan

Setiap bulan dalam kalender ini punya nama yang terdengar akrab di telinga orang Jawa: Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.

Jika dicermati, nama-nama ini adalah “Jawanisasi” dari bulan-bulan Hijriah. Muharram menjadi Sura, Ramadan menjadi Pasa, dan Zulhijah menjadi Besar. Ada pula nama yang sangat lekat dengan kebiasaan masyarakat, seperti Ruwah, bulan ketika orang mengirim doa untuk para leluhur menjelang puasa.

Selisih dengan tahun Masehi

Satu hal yang sering membingungkan: tahun Jawa lebih pendek sekitar 11 hari dibanding tahun Masehi. Akibatnya, tanggal-tanggal penting dalam kalender Jawa terus “bergeser maju” setiap tahun jika dibandingkan dengan kalender Masehi. Itulah sebabnya 1 Sura jatuh pada tanggal Masehi yang berbeda-beda dari tahun ke tahun.

Ingin menghitung cepat? Gunakan rumus sederhana ini: tahun Jawa kira-kira sama dengan tahun Hijriah ditambah 512. Contohnya, 1043 H bertepatan dengan 1555 Jawa. Rumus ini tentu hanya perkiraan kasar, tetapi cukup membantu untuk gambaran awal.

Peran dalam selamatan

Di sinilah kalender Jawa benar-benar menunjukkan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Mendhak pisan dan mendhak pindho, yaitu selamatan peringatan satu dan dua tahun wafatnya seseorang, dihitung dengan tahun Jawa, bukan 365 hari Masehi. Artinya, keluarga yang berduka tidak cukup menghitung satu tahun di kalender dinding biasa. Mereka perlu menengok penanggalan Jawa agar hari pelaksanaannya tepat.

Satu catatan menarik: karena penentuan awal bulan dapat berbeda, tanggalnya bisa berselisih satu hari antar daerah. Perbedaan kecil ini bukan kesalahan, melainkan cerminan dari tradisi hidup yang tumbuh dengan kebiasaan setempat. Di satu desa selamatan mungkin digelar hari Kamis, sementara desa tetangga memilih Jumat.

Pada akhirnya, kalender Jawa bukan sekadar alat penghitung hari. Ia adalah jembatan antara agama, budaya, dan kenangan, yang menuntun masyarakat Jawa menandai waktu sekaligus menghormati mereka yang telah lebih dulu pergi.

Istilah terkait