Kejawen dan Islam Kejawen: Arti dalam Tradisi Kematian Jawa
Kejawen adalah istilah untuk pandangan hidup dan tradisi budaya-spiritual Jawa. Islam Kejawen menunjuk praktik yang memadukan ajaran Islam dengan adat Jawa, antara lain dalam ritual kematian seperti selamatan dan tahlilan.
- Bidang
- Budaya dan spiritualitas Jawa
- Contoh
- Selamatan, tahlilan
Kejawen dan Islam
Rais Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Warungasem, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, KH Abdul Ghofar menjelaskan bahwa sejumlah tradisi Jawa yang masih dijalankan masyarakat hingga sekarang merupakan peninggalan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut sebagian besar tetap bertahan sejak masa kehadiran Wali Songo, meskipun dalam perkembangannya mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai Islam.
Menurut KH Abdul Ghofar, Pulau Jawa memiliki kekayaan adat, bahasa, dan kebudayaan yang sangat beragam. Ketika Islam mulai berkembang di Jawa, sebagian tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat tidak serta-merta dihilangkan. Sebaliknya, para Wali Songo memberikan sentuhan dan nilai-nilai Islami sehingga tradisi tersebut dapat terus diterima oleh masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan KH Abdul Ghofar ketika menerima kunjungan sejumlah kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sidorejo, Warungasem, dalam sebuah kegiatan silaturahim di kediamannya pada Ahad (19/4).
Ia menerangkan bahwa masuknya Islam ke tanah Jawa turut melahirkan perpaduan antara budaya lokal dengan ajaran Islam. Beberapa contohnya dapat ditemukan dalam tradisi nyadran, kegiatan selamatan menjelang panen, tradisi ketika mendirikan rumah, hingga berbagai ajaran dan kebudayaan yang dahulu disampaikan oleh Sunan Kalijaga.
Selain berbagai acara selamatan, permainan tradisional anak-anak Jawa juga disebut memiliki nilai filosofis yang cukup kuat. Sayangnya, permainan semacam itu kini mulai ditinggalkan seiring perubahan zaman dan perkembangan teknologi.
Menurut KH Abdul Ghofar, permainan tradisional pada masa lalu tidak sekadar menjadi sarana hiburan bagi anak-anak. Di balik permainan tersebut terdapat pesan moral dan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan, termasuk nilai-nilai keislaman.
Ia menilai perkembangan teknologi yang semakin pesat turut membuat sebagian generasi muda mulai jauh dari budaya daerahnya sendiri. Kondisi tersebut membuat seseorang masih mengaku sebagai orang Jawa, tetapi tidak lagi mengenal bahasa, tradisi, maupun filosofi yang menjadi bagian dari kebudayaan Jawa.
Salah satu permainan tradisional yang dicontohkannya adalah permainan “SEN”, yang kini lebih dikenal dengan nama gobag sodor. Ada pula permainan “rok umpet” yang menurutnya menyimpan filosofi Islami.
Dalam permainan tersebut terdapat pesan tentang pentingnya berpegang teguh pada ajaran agama. Orang yang memegang prinsip agama diibaratkan tidak mudah diganggu oleh setan, sedangkan sosok yang kalah dalam permainan berperan sebagai pihak yang harus dijaga.
Selain permainan anak, terdapat pula tradisi Jawa dalam pembangunan rumah yang dikenal dengan istilah “ngunggahke molo”. Tradisi tersebut biasanya dilakukan ketika seseorang sedang membangun rumah. Di dalamnya terdapat unsur doa dan harapan agar rumah yang dibangun nantinya menjadi tempat tinggal yang tenteram, nyaman, dan membawa kedamaian bagi penghuninya.
KH Abdul Ghofar menjelaskan bahwa tradisi tersebut juga dapat dipahami sebagai bentuk tafaul, yakni mengambil suatu pertanda atau melakukan sesuatu dengan harapan memperoleh kebaikan sesuai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks ngunggahke molo, doa dan harapan tersebut ditujukan bagi kebaikan serta ketenteraman seluruh penghuni rumah.
Sementara itu, Ketua PR IPNU Sidorejo, Warungasem, Faizul Rahmadani, mengatakan bahwa kunjungan kepada Rais MWCNU Warungasem menjadi kesempatan bagi para kader untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung mengenai budaya dan tradisi Jawa.
Menurutnya, banyak wawasan baru yang diperoleh selama silaturahim tersebut, terutama mengenai berbagai budaya dan tradisi Jawa yang sampai sekarang masih dipraktikkan oleh masyarakat Muslim di sejumlah daerah.
Silaturahim tersebut sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda NU untuk mengenal kembali kekayaan budaya Jawa, termasuk nilai-nilai keislaman yang telah menyatu di dalam berbagai tradisi masyarakat.
Islam Kejawen dalam ritual kematian
Rangkaian selamatan memakai hitungan hari dan pasaran Jawa, sementara isinya berupa tahlilan dan doa menurut Islam. Karena itu banyak peneliti menyebutnya contoh perpaduan Islam dan Jawa.
Catatan
Istilah ini dipakai berbeda-beda oleh peneliti dan komunitas. Sebagian orang tidak menyebut praktiknya dengan istilah ini.