Sejarah Sistem Penanggalan Jawa

Sistem penanggalan Jawa adalah salah satu warisan budaya yang paling unik dan kompleks dalam peradaban Nusantara. Sistem ini telah digunakan oleh masyarakat Jawa selama berabad-abad untuk menentukan waktu pelaksanaan berbagai ritual, upacara adat, dan kegiatan penting lainnya, termasuk untuk menghitung selamatan kematian.

Sejarah sistem penanggalan Jawa dimulai jauh sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa. Pada masa Hindu-Buddha, masyarakat Jawa sudah mengenal sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan (lunar calendar) yang dipengaruhi oleh kalender Hindu dari India. Sistem ini kemudian berkembang dan beradaptasi dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa.

Ketika Islam masuk ke Jawa pada abad ke-15 dan ke-16, terjadi akulturasi antara sistem penanggalan Hindu-Jawa dengan kalender Hijriyah. Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) memainkan peran penting dalam proses ini. Beliau menciptakan sistem penanggalan baru yang menggabungkan siklus lunar dari kalender Hijriyah dengan sistem weton dan pasaran yang sudah ada dalam tradisi Jawa.

Hasil dari akulturasi ini adalah kalender Jawa-Islam atau yang dikenal sebagai "Kalender Sultan Agung". Kalender ini menggunakan tahun Hijriyah sebagai acuan, namun tetap mempertahankan sistem weton dan pasaran yang khas Jawa. Inilah yang membuat kalender Jawa unik dan berbeda dari kalender Hijriyah maupun kalender Masehi.

Hingga saat ini, sistem penanggalan Jawa masih digunakan secara luas oleh masyarakat Jawa, terutama untuk menentukan hari-hari baik dalam melakukan berbagai kegiatan penting seperti pernikahan, pindah rumah, memulai usaha, dan tentu saja untuk menghitung jadwal selamatan kematian.

Konsep Weton dan Cara Menghitungnya

Weton adalah istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada kombinasi antara hari dalam seminggu (7 hari) dengan pasaran (5 hari). Setiap orang yang lahir memiliki weton tertentu yang diyakini mempengaruhi karakter, nasib, dan kecocokan dengan orang lain.

Pengertian Weton

Kata "weton" berasal dari kata "wetu" yang berarti "lahir" atau "keluar". Jadi, weton adalah hari kelahiran seseorang berdasarkan kombinasi hari dan pasaran dalam kalender Jawa. Misalnya, jika seseorang lahir pada hari Selasa Kliwon, maka wetonnya adalah "Selasa Kliwon".

Sistem weton ini sangat penting dalam budaya Jawa karena dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan seseorang. Weton digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari menentukan kecocokan jodoh (primbon), memilih hari baik untuk acara penting, hingga menghitung jadwal selamatan kematian.

Cara Menghitung Weton

Untuk menghitung weton, kita perlu mengetahui tanggal lahir seseorang dalam kalender Masehi, kemudian mengkonversinya ke dalam kalender Jawa. Proses ini cukup kompleks karena melibatkan perhitungan siklus 7 hari dan siklus 5 pasaran yang berjalan secara bersamaan.

Siklus 7 hari (Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu) dan siklus 5 pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) berjalan secara paralel dan berulang. Kombinasi keduanya menghasilkan siklus 35 hari (7 x 5 = 35), yang berarti ada 35 weton unik yang mungkin.

Untuk menentukan weton dengan akurat, banyak orang menggunakan kalkulator weton online atau merujuk pada kalender Jawa yang sudah tersedia. Namun, memahami konsep dasarnya tetap penting agar kita bisa menghargai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

7 Hari dalam Sistem Jawa

Sistem 7 hari dalam kalender Jawa pada dasarnya sama dengan sistem 7 hari dalam kalender Masehi, yaitu Ahad (Minggu), Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Namun, dalam tradisi Jawa, setiap hari memiliki karakteristik dan nilai numerik tersendiri yang digunakan dalam berbagai perhitungan.

Nilai Numerik Hari

Dalam perhitungan weton dan neptu (nilai numerik weton), setiap hari memiliki nilai sebagai berikut:

  • Ahad (Minggu): Nilai 5
  • Senin: Nilai 4
  • Selasa: Nilai 3
  • Rabu: Nilai 7
  • Kamis: Nilai 8
  • Jumat: Nilai 6
  • Sabtu: Nilai 9

Nilai-nilai ini digunakan dalam perhitungan primbon untuk menentukan kecocokan jodoh, hari baik, dan berbagai keperluan lainnya. Meskipun terlihat sederhana, sistem ini memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Jawa.

"Weton bukan sekadar hari lahir, melainkan peta takdir yang menghubungkan manusia dengan ritme alam semesta."

Karakteristik Setiap Hari

Dalam kepercayaan Jawa, setiap hari juga memiliki karakteristik tertentu:

  • Ahad: Hari yang baik untuk beribadah dan beristirahat
  • Senin: Hari yang baik untuk memulai sesuatu yang baru
  • Selasa: Hari yang penuh energi, baik untuk kegiatan yang memerlukan kekuatan
  • Rabu: Hari yang netral, baik untuk berbagai kegiatan
  • Kamis: Hari yang baik untuk mencari ilmu dan berkah
  • Jumat: Hari yang paling mulia, baik untuk beribadah
  • Sabtu: Hari yang baik untuk menyelesaikan pekerjaan

5 Pasaran Jawa

Pasaran adalah siklus 5 hari yang unik dalam kalender Jawa. Kelima pasaran tersebut adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Siklus pasaran ini berjalan terus-menerus, berulang setiap 5 hari, dan berjalan secara paralel dengan siklus 7 hari.

Asal-Usul Pasaran

Sistem pasaran berasal dari tradisi pasar tradisional Jawa yang dahulu berpindah-pindah setiap 5 hari. Setiap desa memiliki hari pasaran tertentu di mana pedagang dari berbagai tempat berkumpul untuk berjualan. Sistem ini kemudian berkembang menjadi bagian integral dari kalender Jawa.

Nilai Numerik Pasaran

Seperti halnya hari, setiap pasaran juga memiliki nilai numerik (neptu) yang digunakan dalam berbagai perhitungan:

  • Legi: Nilai 5
  • Pahing: Nilai 9
  • Pon: Nilai 7
  • Wage: Nilai 4
  • Kliwon: Nilai 8

Nilai neptu dari hari dan pasaran dijumlahkan untuk mendapatkan nilai total weton seseorang. Nilai ini kemudian digunakan dalam perhitungan primbon untuk berbagai keperluan.

Karakteristik Setiap Pasaran

Setiap pasaran memiliki karakteristik dan makna filosofis tersendiri:

Legi

Legi berasal dari kata "legi" yang berarti manis. Orang yang lahir pada pasaran Legi dianggap memiliki sifat yang lembut, manis, dan mudah bergaul. Pasaran Legi dikaitkan dengan unsur air, melambangkan kelembutan dan kemampuan beradaptasi.

Pahing

Pahing berasal dari kata "pating" yang berarti keras atau kuat. Orang yang lahir pada pasaran Pahing dianggap memiliki sifat yang kuat, tegas, dan berpendirian. Pasaran Pahing dikaitkan dengan unsur api, melambangkan kekuatan dan semangat.

Pon

Pon berasal dari kata "pon" yang berarti pokok atau dasar. Orang yang lahir pada pasaran Pon dianggap memiliki sifat yang stabil, dapat diandalkan, dan menjadi tumpuan bagi orang lain. Pasaran Pon dikaitkan dengan unsur tanah, melambangkan kestabilan dan kekokohan.

Wage

Wage berasal dari kata "waged" yang berarti berat atau berwibawa. Orang yang lahir pada pasaran Wage dianggap memiliki sifat yang bijaksana, berwibawa, dan dihormati. Pasaran Wage dikaitkan dengan unsur logam, melambangkan keteguhan dan kehormatan.

Kliwon

Kliwon berasal dari kata "kiwa" yang berarti kiri atau berbeda. Orang yang lahir pada pasaran Kliwon dianggap memiliki sifat yang unik, spiritual, dan memiliki intuisi yang kuat. Pasaran Kliwon dikaitkan dengan unsur ether atau ruang, melambangkan spiritualitas dan misteri.

35 Kombinasi Weton Unik

Kombinasi antara 7 hari dan 5 pasaran menghasilkan 35 weton unik yang mungkin. Setiap weton memiliki karakteristik tersendiri berdasarkan kombinasi sifat hari dan pasaran. Berikut adalah daftar lengkap 35 weton:

No Weton Neptu Karakteristik Umum
1 Ahad Legi 10 Lembut dan religius
2 Ahad Pahing 14 Kuat dan beriman
3 Ahad Pon 12 Stabil dan religius
4 Ahad Wage 9 Bijaksana dan tenang
5 Ahad Kliwon 13 Spiritual dan unik
6 Senin Legi 9 Mudah bergaul dan adaptif
7 Senin Pahing 13 Energik dan berani
8 Senin Pon 11 Pekerja keras dan stabil
9 Senin Wage 8 Tenang dan bijaksana
10 Senin Kliwon 12 Intuitif dan kreatif
11 Selasa Legi 8 Lembut namun kuat
12 Selasa Pahing 12 Sangat energik dan tegas
13 Selasa Pon 10 Kuat dan dapat diandalkan
14 Selasa Wage 7 Tegas dan berwibawa
15 Selasa Kliwon 11 Kuat dan spiritual
16 Rabu Legi 12 Seimbang dan lembut
17 Rabu Pahing 16 Berpengaruh dan kuat
18 Rabu Pon 14 Sangat stabil dan bijaksana
19 Rabu Wage 11 Seimbang dan berwibawa
20 Rabu Kliwon 15 Bijaksana dan spiritual
21 Kamis Legi 13 Cerdas dan lembut
22 Kamis Pahing 17 Sangat berpengaruh
23 Kamis Pon 15 Cerdas dan stabil
24 Kamis Wage 12 Bijaksana dan terhormat
25 Kamis Kliwon 16 Sangat spiritual dan cerdas
26 Jumat Legi 11 Beruntung dan lembut
27 Jumat Pahing 15 Beruntung dan kuat
28 Jumat Pon 13 Beruntung dan stabil
29 Jumat Wage 10 Sangat beruntung
30 Jumat Kliwon 14 Beruntung dan spiritual
31 Sabtu Legi 14 Pekerja keras dan lembut
32 Sabtu Pahing 18 Sangat kuat dan pekerja keras
33 Sabtu Pon 16 Sangat stabil dan pekerja keras
34 Sabtu Wage 13 Berwibawa dan pekerja keras
35 Sabtu Kliwon 17 Unik dan pekerja keras

Tabel di atas menunjukkan semua kemungkinan kombinasi weton beserta nilai neptu dan karakteristik umumnya. Nilai neptu ini sangat penting dalam perhitungan primbon, termasuk untuk menentukan kecocokan jodoh dan hari baik untuk berbagai kegiatan.

Makna Filosofis Setiap Pasaran

Dalam pandangan filosofis Jawa, kelima pasaran tidak hanya sekadar penanda waktu, tetapi juga melambangkan konsep-konsep mendalam tentang kehidupan dan alam semesta.

Konsep Panca Mahabhuta

Kelima pasaran dikaitkan dengan konsep Panca Mahabhuta (lima unsur alam) dalam filosofi Jawa yang dipengaruhi oleh Hindu-Buddha:

Legi - Air (Apah): Melambangkan kelembutan, kemampuan beradaptasi, dan kehidupan. Air mengalir ke mana-mana, menyesuaikan bentuk wadahnya, namun tetap mempertahankan esensinya. Demikian pula orang yang lahir di pasaran Legi dianggap memiliki kemampuan beradaptasi yang baik namun tetap mempertahankan jati dirinya.

Pahing - Api (Teja): Melambangkan kekuatan, semangat, dan transformasi. Api memiliki kekuatan untuk mengubah, memberikan kehangatan, namun juga bisa merusak jika tidak terkendali. Orang yang lahir di pasaran Pahing dianggap memiliki energi yang besar dan kemampuan untuk membawa perubahan.

Pon - Tanah (Pertiwi): Melambangkan kestabilan, kekokohan, dan kesuburan. Tanah adalah tempat berpijak, sumber kehidupan, dan simbol kestabilan. Orang yang lahir di pasaran Pon dianggap memiliki sifat yang stabil, dapat diandalkan, dan menjadi tumpuan bagi orang lain.

Wage - Logam (Bayu): Melambangkan keteguhan, kehormatan, dan nilai yang tinggi. Logam adalah benda yang keras, berharga, dan tahan lama. Orang yang lahir di pasaran Wage dianggap memiliki prinsip yang kuat, berwibawa, dan dihormati.

Kliwon - Ether/Ruang (Akasa): Melambangkan spiritualitas, misteri, dan dimensi yang lebih tinggi. Ether adalah unsur yang tidak kasat mata namun menghubungkan semua unsur lainnya. Orang yang lahir di pasaran Kliwon dianggap memiliki kepekaan spiritual yang tinggi dan intuisi yang kuat.

Keseimbangan Alam Semesta

Kelima pasaran juga melambangkan keseimbangan alam semesta. Dalam filosofi Jawa, keseimbangan adalah kunci harmoni. Setiap pasaran memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri, dan kombinasi dengan hari tertentu menciptakan karakteristik unik yang seimbang.

Pemahaman tentang makna filosofis pasaran ini penting tidak hanya untuk memahami karakter seseorang, tetapi juga untuk memahami bagaimana sistem penanggalan Jawa digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan berbagai kegiatan penting.

Pengaruh Weton dalam Kehidupan Jawa

Weton memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa. Sistem weton tidak hanya digunakan untuk menentukan karakter seseorang, tetapi juga untuk berbagai keperluan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Penentuan Jodoh (Primbon Jodoh)

Salah satu penggunaan weton yang paling populer adalah untuk menentukan kecocokan jodoh. Dalam primbon Jawa, kecocokan antara dua weton dihitung berdasarkan jumlah neptu keduanya. Hasil penjumlahan neptu kemudian dibagi dengan angka tertentu, dan sisanya menentukan tingkat kecocokan.

Meskipun di era modern banyak orang yang tidak lagi mempercayai sepenuhnya perhitungan primbon, tradisi ini masih sering digunakan sebagai pertimbangan, terutama oleh generasi yang lebih tua. Banyak keluarga Jawa yang masih berkonsultasi dengan ahli primbon sebelum menikahkan anak mereka.

Penentuan Hari Baik

Weton juga digunakan untuk menentukan hari baik untuk melakukan berbagai kegiatan penting seperti:

  • Pernikahan
  • Pindah rumah
  • Memulai usaha
  • Membeli kendaraan atau rumah
  • Melakukan perjalanan jauh
  • Memulai pembangunan rumah

Setiap weton memiliki hari-hari tertentu yang dianggap baik atau buruk untuk melakukan kegiatan tertentu. Perhitungan ini cukup kompleks dan biasanya dilakukan oleh ahli primbon atau dengan menggunakan kalender Jawa yang sudah dilengkapi dengan petunjuk hari baik.

Perhitungan Selamatan

Dalam konteks selamatan kematian, weton sangat penting untuk menghitung jadwal selamatan yang akurat. Perhitungan selamatan seperti nelung dina, mitung dina, matangpuluh, nyatus, dan nyewu semuanya mempertimbangkan weton orang yang meninggal.

Rumus-rumus perhitungan selamatan menggunakan sistem weton untuk memastikan bahwa selamatan jatuh pada hari dan pasaran yang tepat. Ini bukan sekadar menambahkan jumlah hari, tetapi melibatkan perhitungan yang mempertimbangkan siklus 35 hari dari weton.

Penamaan Anak

Weton juga sering dipertimbangkan dalam penamaan anak. Beberapa keluarga Jawa berkonsultasi dengan ahli primbon untuk mendapatkan nama yang sesuai dengan weton anak, dengan harapan nama tersebut akan membawa keberuntungan dan keselamatan bagi anak.

Cara Menentukan Weton Kelahiran

Menentukan weton kelahiran seseorang memerlukan informasi tentang tanggal lahir dalam kalender Masehi, yang kemudian dikonversi ke dalam sistem kalender Jawa. Berikut adalah langkah-langkah untuk menentukan weton:

Metode Manual

Langkah 1: Tentukan Hari Kelahiran
Tentukan hari kelahiran dalam seminggu (Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, atau Sabtu). Ini bisa dilihat dari kalender Masehi atau dihitung menggunakan rumus tertentu.

Langkah 2: Tentukan Pasaran Kelahiran
Untuk menentukan pasaran, diperlukan perhitungan yang lebih kompleks. Salah satu cara adalah dengan menggunakan tanggal acuan yang sudah diketahui weton-nya, kemudian menghitung selisih hari dan membaginya dengan 5 untuk mendapatkan sisa yang menunjukkan pasaran.

Langkah 3: Gabungkan Hari dan Pasaran
Setelah mengetahui hari dan pasaran, gabungkan keduanya untuk mendapatkan weton lengkap. Misalnya, jika lahir pada hari Rabu dengan pasaran Kliwon, maka wetonnya adalah "Rabu Kliwon".

Metode Modern (Kalkulator Online)

Cara yang paling mudah dan akurat untuk menentukan weton adalah dengan menggunakan kalkulator weton online. Cukup masukkan tanggal lahir dalam kalender Masehi, dan kalkulator akan secara otomatis menghitung weton, neptu, dan informasi lainnya.

Kalkulator selamatan kami juga dilengkapi dengan fitur untuk menentukan weton. Selain itu, kami juga menyediakan kalender Jawa 2026 yang lengkap dengan weton setiap harinya, sehingga Anda bisa dengan mudah mengetahui weton untuk tanggal tertentu.

Menggunakan Kalender Jawa Cetak

Bagi yang lebih suka metode tradisional, kalender Jawa cetak masih banyak tersedia. Kalender ini biasanya menampilkan tanggal Masehi, tanggal Hijriyah, dan weton untuk setiap hari. Cukup cari tanggal lahir Anda di kalender tersebut, dan Anda akan menemukan wetonnya.

Perbedaan Kalender Jawa dengan Kalender Masehi

Kalender Jawa dan kalender Masehi memiliki perbedaan mendasar dalam sistem perhitungannya. Memahami perbedaan ini penting untuk memahami mengapa perhitungan selamatan tidak bisa hanya dengan menambahkan jumlah hari dalam kalender Masehi.

Sistem Perhitungan

Kalender Masehi adalah kalender solar (matahari) yang didasarkan pada revolusi bumi mengelilingi matahari. Satu tahun Masehi terdiri dari 365 hari (366 hari pada tahun kabisat), dibagi menjadi 12 bulan dengan jumlah hari yang bervariasi (28-31 hari).

Kalender Jawa adalah kalender lunar (bulan) yang didasarkan pada revolusi bulan mengelilingi bumi, namun dengan penyesuaian tertentu. Satu tahun Jawa terdiri dari 354 hari (sama dengan tahun Hijriyah), dibagi menjadi 12 bulan dengan jumlah hari yang bergantian antara 29 dan 30 hari.

Perbedaan Jumlah Hari dalam Setahun

Perbedaan paling mendasar adalah jumlah hari dalam setahun:

  • Kalender Masehi: 365 hari (366 pada tahun kabisat)
  • Kalender Jawa: 354 hari
  • Selisih: 11 hari (12 hari pada tahun kabisat Masehi)

Selisih 11 hari ini menyebabkan tanggal yang sama dalam kalender Jawa akan jatuh pada tanggal yang berbeda dalam kalender Masehi setiap tahunnya. Misalnya, 1 Sura 1957 Jawa jatuh pada tanggal tertentu dalam kalender Masehi, tetapi 1 Sura 1958 Jawa akan jatuh 11 hari lebih awal dalam kalender Masehi.

Sistem Weton

Kalender Jawa memiliki sistem weton (kombinasi 7 hari dan 5 pasaran) yang tidak ada dalam kalender Masehi. Sistem ini menciptakan siklus 35 hari yang unik dan digunakan untuk berbagai perhitungan, termasuk perhitungan selamatan.

Kalender Masehi hanya mengenal siklus 7 hari (Minggu-Sabtu) tanpa ada sistem pasaran. Ini membuat perhitungan dalam kalender Masehi lebih sederhana, tetapi tidak bisa digunakan untuk perhitungan yang memerlukan sistem weton.

Nama Bulan

Kalender Jawa menggunakan nama bulan yang sama dengan kalender Hijriyah (Muharram, Safar, Rabiul Awal, dst.), sementara kalender Masehi menggunakan nama bulan Latin (Januari, Februari, Maret, dst.).

Tahun Baru

Tahun baru dalam kalender Masehi jatuh pada 1 Januari, sementara tahun baru dalam kalender Jawa (1 Sura) jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya dalam kalender Masehi, karena perbedaan jumlah hari dalam setahun.

Kalender Jawa vs Kalender Hijriyah

Meskipun kalender Jawa didasarkan pada kalender Hijriyah, terdapat beberapa perbedaan penting antara keduanya. Memahami perbedaan ini penting untuk memahami keunikan kalender Jawa.

Persamaan

Kalender Jawa dan kalender Hijriyah memiliki beberapa persamaan:

  • Keduanya adalah kalender lunar (berdasarkan peredaran bulan)
  • Satu tahun terdiri dari 354 hari (atau 355 hari pada tahun kabisat)
  • Menggunakan nama bulan yang sama (Muharram, Safar, Rabiul Awal, dst.)
  • Tahun dimulai pada bulan Muharram (Sura dalam bahasa Jawa)

Perbedaan Utama

1. Sistem Weton
Kalender Jawa memiliki sistem weton (kombinasi 7 hari dan 5 pasaran) yang tidak ada dalam kalender Hijriyah. Sistem weton ini adalah ciri khas kalender Jawa yang membedakannya dari kalender Hijriyah.

2. Penentuan Awal Bulan
Kalender Hijriyah menentukan awal bulan berdasarkan ru'yatul hilal (pengamatan hilal/bulan sabit) atau hisab (perhitungan astronomi). Sementara itu, kalender Jawa menggunakan sistem hisab yang sudah ditetapkan sejak zaman Sultan Agung, sehingga tanggal dalam kalender Jawa bisa diprediksi dengan pasti tanpa perlu menunggu pengamatan hilal.

3. Tahun Acuan
Kalender Hijriyah dimulai dari tahun Hijrah Nabi Muhammad SAW (622 M). Kalender Jawa juga menggunakan tahun Hijriyah sebagai acuan, tetapi dengan penyesuaian. Tahun Jawa dimulai 8 tahun setelah tahun Hijriyah, sehingga tahun 1 Jawa setara dengan tahun 9 Hijriyah (tahun 630 M, ketika Sultan Agung menetapkan kalender ini).

4. Penggunaan
Kalender Hijriyah digunakan secara universal oleh umat Islam di seluruh dunia untuk menentukan hari-hari penting Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dll. Kalender Jawa digunakan khusus oleh masyarakat Jawa untuk berbagai keperluan adat dan budaya, termasuk perhitungan selamatan, penentuan hari baik, dan primbon.

Untuk melihat perbandingan lengkap antara kalender Jawa dan Hijriyah di tahun 2026, Anda bisa mengunjungi artikel kami tentang kalender Hijriyah 2026.

Integrasi dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa yang beragama Islam menggunakan kedua kalender ini secara bersamaan. Kalender Hijriyah digunakan untuk keperluan ibadah dan hari-hari besar Islam, sementara kalender Jawa digunakan untuk keperluan adat dan budaya.

Misalnya, untuk menentukan waktu Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat Jawa mengikuti kalender Hijriyah yang ditetapkan oleh pemerintah atau organisasi Islam. Namun, untuk menentukan jadwal selamatan kematian, mereka menggunakan kalender Jawa dengan sistem weton.

Integrasi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa berhasil memadukan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal, menciptakan budaya yang unik dan harmonis.

Kesimpulan

Sistem penanggalan Jawa dengan weton dan pasarannya adalah warisan budaya yang sangat berharga. Sistem ini bukan hanya sekadar alat untuk menghitung waktu, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan, alam semesta, dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa.

Memahami sistem penanggalan Jawa penting tidak hanya untuk keperluan praktis seperti menghitung jadwal selamatan, tetapi juga untuk menghargai kearifan lokal dan melestarikan budaya Jawa. Di era modern ini, meskipun kita lebih banyak menggunakan kalender Masehi dalam kehidupan sehari-hari, sistem penanggalan Jawa tetap relevan dan digunakan untuk berbagai keperluan adat dan budaya.

Dengan bantuan teknologi modern seperti kalkulator online dan kalender digital, sistem penanggalan Jawa yang kompleks menjadi lebih mudah diakses dan dipahami oleh generasi muda. Ini memberikan harapan bahwa tradisi ini akan terus lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang.