Surtanah (Nyusur Tanah): Arti Selamatan Setelah Penguburan
Surtanah (nyusur tanah) adalah selamatan yang digelar setelah jenazah dimakamkan, sebelum rangkaian peringatan hari ketiga dan seterusnya. Namanya dan waktu pelaksanaannya dapat berbeda antar daerah.
- Waktu
- Setelah penguburan
- Dihitung kalkulator
- Tidak terpisah dari geblag
Surtanah: Tradisi Selamatan Usai Pemakaman dalam Budaya Jawa
Bagi masyarakat Jawa, kematian bukan akhir dari segalanya. Ada rangkaian doa, ritual, dan simbol yang mengiringi kepergian seseorang. Salah satunya adalah surtanah, tradisi yang sarat makna dan masih dijaga hingga kini.
Sebelum pemakaman (pembuatan liang lahat)
Istilah surtanah berasal dari pemendekan kata ngesur tanah, yang bermakna membuat pekuburan. Dari kegiatan menggali tanah untuk liang lahat inilah nama tradisi tersebut lahir. Sederhana, tetapi menyimpan kedalaman filosofi tentang manusia yang kembali kepada tanah.
Dalam praktiknya, surtanah adalah selamatan yang digelar usai prosesi pemakaman, sebelum memasuki rangkaian nelung dina dan seterusnya. Ini terjadi pada hari yang sama dengan geblag, yaitu hari wafat yang menjadi titik awal semua hitungan selamatan. Keluarga, tetangga, sahabat dekat almarhum, hingga pemuka agama berkumpul bersama. Suasananya hangat, penuh kebersamaan, dan menjadi cara masyarakat saling menguatkan di tengah duka.
Surtanah juga dikenal sebagai ritual sesaji bedhah lemah atau bedah bumi. Tujuannya mulia: memohon agar arwah yang berpulang mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Doa yang dipanjatkan bersama menjadi bentuk bakti terakhir dari mereka yang ditinggalkan.
Perlengkapan sesaji dalam upacara surtanah
Setiap ritual Jawa selalu punya ubarampe, yakni perlengkapan sesaji yang masing-masing memiliki arti. Dalam surtanah, masyarakat Jawa membaginya menjadi dua tingkatan sosial, sesuai tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Golongan bangsawan, disiapkan:
Sesaji untuk kalangan bangsawan tampil lebih lengkap dan berlapis. Ada tumpeng asahan lengkap dengan lauk, sayur dingin yang tidak boleh pedas, serta pecel dengan sayatan ayam goreng atau ayam panggang. Pelengkapnya meliputi krupuk, sayur menir, sambal dengan kedelai yang dikupas, dan rempeyek.
Selain itu tersedia nasi golong (nasi yang dibentuk bola), nasi gurih, pisang raja, dan tumpeng ukur-ukuran. Perhatikan larangan pedas pada sayur: rasa yang lembut dipercaya selaras dengan suasana batin yang tenang dan penuh kerendahan hati.
Golongan rakyat jelata, disiapkan:
Untuk kalangan rakyat jelata, sesajinya lebih bersahaja namun tak kalah bermakna. Hidangan utamanya adalah tumpeng beserta lauknya, ingkung ayam panggang, nasi golong, dan nasi asahan, yaitu nasi putih yang diletakkan di atas nyiru.
Ada pula tumpeng pungkur (nasi berbentuk kerucut), tumpeng langgeng, kembang setaman, pisang sajen, sirih (kinang), dan tembakau. Satu unsur penting lainnya adalah uang bedhah lemah, yang diberikan kepada pemimpin tahlil sebagai wujud penghormatan.
Makna di balik tradisi
Meski berbeda dalam kelengkapan, kedua golongan memiliki semangat yang sama: mendoakan, berbagi, dan menghormati yang telah tiada. Nasi yang dibagikan bukan sekadar makanan, melainkan sedekah yang pahalanya diharapkan mengalir kepada almarhum.
Di tengah zaman yang serba cepat, surtanah mengingatkan kita bahwa kebersamaan adalah obat paling manjur bagi kehilangan. Tradisi ini mengajarkan bahwa duka tidak perlu dipikul sendirian, dan bahwa doa tulus dari orang-orang tercinta adalah bekal terbaik bagi perjalanan terakhir. Sebelum surtanah, saat seseorang masih dalam kondisi sekarat, keluarga biasanya membacakan talqin sebagai bimbingan kalimat tauhid.